Rainbow CREATIVE - Latar Belakang

Konsep pengembangan wisata telah banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia melalui penggalian potensi-potensi wisata yang memang layak untuk dikembangkan. Upaya ini juga didukung oleh pemerintah melalui UU no 10 tahun 2009 di mana beberapa tujuan di antaranya adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya.


Dengan seiring pertumbuhan kepariwisataan di Sangatta Khususnya dan Kutai Timur secara umum, secara tidak langsung menuntut perkembangan sisi kehidupan yang lain, termasuk usaha pengembangan suvenir.

Saat ini, Kab. Kutai Timur beribu kota di Sangatta yang berpenduduk kurang lebih 253.847 jiwa dengan sebagian besar penduduknya adalah pendatang yang bekerja dan mencari nafkah di Kutai Timur, sehingga sering kembali ke kampung halamannya. Biasanya mereka kembai akan membawa sesuatu yang khas dari daerah tempat di mana ia bekerja.


Kecenderungan dari suvenir yang ada di Kalimantan yang serupa dan seragam, sehingga suvenir bisa dibeli di mana saja dan tidak menggambarkan secara spesifik suvenir tersebut berasal dari mana. Berangkat dari hal itu, kami ingin mengembangkan suvenir-suvenir yang dapat memperkenalkan derah asal kami kepada khalayak dengan tetap mencirikan keunikan lokal Sangatta dan Kutai Timur. Souvenir Tradisional di Kalimantan cenderung tidak mempunyai banyak varian. Penjualan ini akan lebih menawarkan berbagai macam jenis sesuai dengan minat konsumen dan menampilkan varian yang terbaru yang unik dan bercirikan lokal khas daerah.

Dengan adanya kondisi diatas itu membuat peluang yang berkaitan dengan kerajinan souvenir pun terbuka lebar dan bisa saja sangat menjanjikan. Untuk itu, kami ingin memanfaatkan peluang ini. Kami telah mendirikan sebuah perkumpulan yang mengerjakan kerajinan suvenir khas daerah dengan nama Rainbow CREATIVE sejak 2011.

Ragam Hias Khas Basap

Daerah Bengalon merupakan daerah strategis, baik dari segi potensi alam maupun lalu lintas perdagangan. Perpaduan topografi, ketinggian, geologi, tanah, iklim dan curah hujan menjadikan Bengalon kaya akan vegetasi dan keragaman fauna.
Sungai Bengalon yang dijuluki sungai Mahakam, berarti sungai ‘utama’, merupakan penghubung antara Kutai dengan muara Bengalon dan berperan penting dalam mobilitas perdagangan.

Salah satu suku yang hidup bergantung pada alam daerah Bengalon adalah suku Dayak Basap. Proses adaptasi Dayak Basap pada daerah Bengalon menjadikan Dayak Basap sebagai suku dengan kekhasan yang tidak tampak pada suku lainnya. Kekhasan tersebut tertuang pada nilai-nilai termasuk nilai visual khas Dayak Basap. Karakter visual khas Dayak Basap tampil melalui ragam hias dan ilustrasi hasil stilasi alam seperti bentukan pohon serta hewan yang berperan penting dalam kehidupan Dayak Basap.

Bagi Dayak Basap, peran dan makna corak yang mereka buat tidak lebih penting dari proses pembuatan itu sendiri, yaitu pada saat upacara adat Erau. Proses pembuatan corak selama upacara Erau merupakan simbol bagi Dayak Basap dalam menghormati alam yang menghidupi mereka selama setahun penuh berladang dan berburu di hutan.

Kekhasan corak Dayak Basap berpotensi di’olah-rupa’kan pada berbagai media. Penggunaan visual lokal merupakan salah satu bentuk penghargaan bagi lokalitas daerah, khususnya dengan memunculkan identitas Kalimantan Timur. Dan salah satu media primer yang dapat menerapkan tujuan tersebut adalah media busana. Perancangan busana dengan lokalitas khas Dayak Basap diharapkan dapat menjadi dorongan bagi pemanfaatan unsur lokal selanjutnya pada media-media lainnya.

Sumber: Yosephin Sri (Basap Berkarya, 2013).

Perjalanan Bersama National Geograpich di Sangatta -2

Perjalanan hari ini, Tim KPC, National Geograpich, dan saya akan menuju ke PIT J, yaitu salah satu area pertambangan milik PT KPC. Tim kami ditemani juga dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur, dan peneliti dari Universitas Mulawarman Samarinda. Perjalanan ke PIT J ini bertujuan untuk melihat Kelelawar di Goa Kenyamukan. Persiapan yang wajib dilakukan yaitu melengkapi PPE, atau alat pelindung diri sebelum memasuki tambang. Adapun PPE yang digunakan yaitu sepatu safety, Helm, rompi berreflektor, dan kartu visitor untuk memasuki area tambang.
Sekilas tentang goa ini, adalah berada di area yang sempat akan ditambang. Namun karena ditemukan adanya sebuah goa, maka proses penambanganpun dihentikan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi goa ini. Dikarenakan goa ini merupakan habitat kelelawar, maka untuk menjaga ekosistemnya, PT KPC menghentikan eksplorasinya di area ini dan tetap menjaga keasliannya.

Pukul 09.00 kami berangkat menuju PIT J, sekitar 15 kami sampai di kantor PIT J. Di sana mobil kami memasang bendera penanda untuk mobil berukuran kecil yang masuk ke area tambang. Setelah bendera terpasang, perjalanan menuju goa di lanjutkan. Sepanjang 30 menit, kami disuguhkan aktifitas pertambangan, mulai dari lalu lalangnya mobil-mobil berukuran raksasa yang melakukan pengangkutan batu bara, tanah, hingga dumping tanah di salah satu tempat di area PIT J. Sesampainya di dekat goa, kami harus menghentikan mobil dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 5 menit.

Di mulut gua, Pak Pindi memberikan breafing sejenak tentang potensi bahaya di dalam gua, seperti lemas, kehabisan oksigen, menabrak kelelawar atau menabrak batu. Dijelaskan juga bahwa di dalam goa ini terdapat kurang lebih tiga jenis kelelawar, berbagai hewan kecil lainnya seperti laba-laba dan jangkrik. Kelelawar ini berfungsi sebagai hewan yang mengatur keseimbangan nyamuk, karena kelelawar yang ada di gua ini memangsa nyamuk. Apabila goa ini dihancurkan atau dirusak ekosistemnya, maka kemungkinan besar daerah Sangatta bisa terjadi endemik nyamuk, dan ini sangat berbahaya. Karena nyamuk ada yang berpotensi membawa penyakit malaria dan demam berdarah.

Memasuki kawasan goa, kami disuguhkan dengan banyaknya kelelawar yang berterbangan karena merasa terganggu dengan adanya pergerakan yang terjadi. Di dalam goa ini berukuran cukup luas, jarak dari sisi ke sisinya bisa mencapai 20an langkah orang dewasa. Di dinding-dinding goa terdapat kelelawar-kelelawar yang bergantungan, jumlahnya sangat banyak, kemungkinan bisa mencapai ribuan ekor. Di salah satu sisi dinding, terdapat semacam terowongan untuk menuju sisi goa yang lain. Di sisi lain tersebut kita bisa menemukan jenis kelelawar yang lebih besar daripada kelelawar yang ada di area mulut goa. Selain itu, banyak laba-laba dan jangkrik yang bersebaran di sekitar dinding-dinding gua.

Kami banyak mengambil foto untuk mengabadikan keunikan dan keindahan goa ini. Sampai-sampai kami tak merasa bahwa waktu telah menunjukkan pukul 14.00. Kamipun harus kembali ke kota untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke Telaga Batu Arang.

Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Telaga Batu Arang. Tidak sampai 30 menit, kami telah sampai. Di sana saya dan Pak Rober dari tim KPC menjelaskan kepada perwakilan National Geograpich tentang wilayah paska tambang ini yang akan dijadikan sebagai tempat wisata. Mereka sangat terkesan dengan hijau dan rimbunnya tempat ini. Mereka tak menyangka bahwa Telaga Batu Arang adalah wilayah yang pernah ditambang. Selesai mengambil dokumentasi kami bergegas kembali ke kantor CE KPC karena perwakilan National Geograpich harus kembali ke PIT J untuk mendokumentasikan keluarnya kelelawar di sore hari dan sayapun harus kembali ke sekretariat untuk melanjutkan aktifitas.

Perjalanan Bersama National Geograpich di Sangatta -1


Perjalanan dimulai pada tanggal 06-06-2012 dari pukul 5 pagi, kegiatan hari ini bertujuan untuk menemukan artikel pendukung dalam melengkapi artikel utama yang dikerjakan. Tujuan pertama, kami diajak oleh KPC menuju pantai teluk lombok.

Yang Manakah Sangatta Seberang

Berdasar sepengetahuan saya yang sejak kecil (baru umur harian) berada di Sangatta.
Awalnya Sangatta yaitu sebuah desa di pesisir daerah aliran sungai Sangatta (Pelabuhan Sampai sekitaran Kampung tengah).
Nah inilah awalnya Sangatta (Sangatta Lama). Kemudian semakin berkembang dengan adanya pertamina, muncullah kampung-kampung baru di sekitarnya. Semisal margarukun, masabang, gn. teknik, dian patra hingga sampai perkampungan di kilo. (Tidak termasuk daerah sangkima)

Maka yang di wilayah seberang sungainya (daerah majai, sekarang jl. yos sudarso I) menjadi daerah seberangnya Sangatta, jadi bisa disebut Sangatta Seberang.
Tak heran banyak toko-toko pada sekitaran tahun 90-an menuliskan alamat daerah tersebut adalah Sangatta Seberang.

Ketika perusahaan besar KPC mulai masuk, maka terjadi perkembangan penduduk yang sangat signifikan. Karena sebagian wilayah Sangatta Lama di bagian selatan merupakan wilayah Taman Nasional Kutai yang merupakan wilayah konservasi dan tidak boleh dikembangkan, maka perkembangan wilayah terjadi di daerah utara. Hingga terbentuklah Sangatta Baru atau Swarga bara kini. Semakin lama wilayah bagian utara semakin besar seiring dengan semakin besarnya KPC.

Maka terbentuklah perpadatan populasi di daerah utara yang kemudian menjadi pusat kegiatan. Tak heran pemikiran tentang daerah Sangatta adalah di bagian utara yang kini telah menjadi daerah yang penduduknya lebih banyak.
Sehingga terbentuklah mainstream penduduk bahwa Sangatta adalah di utara dan yang di selatan (awalnya Sangatta) yang berada di seberang sungai adalah Sangatta Seberang. Sedang Sangatta Seberang (yang dahulu) sendiri menjadi Sangatta lama.

*Correct Me If I'm Wrong

Prevab Taman Nasional Kutai


Perjalanan dari dermaga penjemputan di Kabo Jaya memerlukan waktu sekitar 25 menit untuk menuju Prevab dengan perahu kecil yang disebut ketinting. Kapasitas ketinting cukup untuk 8 orang.
Alternatif lain yaitu tracking melalui kampung jawa dan tembus di depan Prevab, kemudian menyeberang dengan ketinting.

· Fasilitas Prevab
1 bangunan terdapat 2 kamar tidur, dapur, 2 buah kamar mandi, dan televisi.
1 bangunan lagi biasanya untuk wisatawan asing.

Terdapat banyak jalur tracking yang berliku dan saling terhubung, sehingga cukup membingungkan apabila tidak ditemani oleh pemandu.

Beberapa hewan khas yang ada di Prevab Taman Nasional Kutai antara lain: Orang utan, Kupu-kupu hidung panjang, dan Rangkong badak.

Terdapat pohon sengkuang raksasa yang dapat menjadi daya tarik.

Monumen Singa yang Hilang


Sebelum kota Sangatta mengenal adanya monumen burung enggang atau lebih dikenal dengan patung burung, di Sangatta terlebih dahulu ada sebuah monumen yang menjadi lambang kota ini. Monumen itu adalah sebuah patung pejuang dengan tombaknya dan seekor singa di sisinya. Sebelum pemekaran Kabupaten Kutai, monumen ini berdiri megah di perempatan utama di Sangatta yang saat itu masih berstatus kecamatan di Kab. Kutai.

Seiring perkembangan Kab. Kutai Timur (pemekaran Kab. Kutai) patung ini tak tampak lagi dan diganti dengan patung burung. Padahal filosofi singa di wilayah Sangatta sangat erat dalam budaya masyarakat Kutai di Sangatta. Terbukti dengan sejarah Sangatta yang mencatat nama tokoh kutai dari Sangatta yaitu Singa Karti dan Singa Geweh.
SINGA-MACAN-LEJI
Gelar kehormatan ini tampaknya merujuk pada macan dahan jantan yang suka mengawasi dengan mata tajam dari dahan-dahan, layaknya pemimpin. Macan dahan tidak besar seperti harimau Sumatera dan Jawa, namun dihormati oleh tetua adat, khususnya di Mahakam-Bengalon-Sangatta, Kalimantan Timur.
Singa merupakan gelar bagi tetua adat Kutai-Pantun, Macan dipakai oleh tetua adat Dayak Basap (Punan). Sedangkan Leji merupakan gelar bagi tetua adat Dayak Wehea (Bahau).*

Sisa Kejayaan Minyak di Kota Batu Bara

Masih terlihat di beberapa sudut wilayah Sangatta. Pompa-pompa minyak penerus hegemoni kebesaran minyak yang mulai memudar. Mengingatkan kembali pada Sangatta era 90'an.

Transpotasi Penyeberangan - Ponton

Di wilayah yang daerahnya dipisahkan oleh sungai. Sudah barang tentu diperlukan sebuah mode transportasi yang dapat menghubungkan daerah satu dengan daerah di seberangnya. Tak terkecuali di Sangatta. Selain terdapat dua buah jembatan yang menghubungkan wilayah Sangatta Utara dengan wilayah Sangatta Selatan juga terdapat mode transportasi penyeberangan yang bernama Ponton.
Ponton ini merupakan mode transportasi yang dapat mengangkut pergerakan manusia dan kendaraan roda dua. Ponton terdiri dari dua buah perahu yang dihubungkan berdampingan, dengan alas yang cukup luas. Menggunakan sebuah mesin yang berguna sebagai penggerak ponton. Satu buah ponton dengan kapasitas maksimum dapat menyeberangkan 10 buah motor dan 10 orang penumpang.
Harga penyeberangan ini cukup murah, untuk sebuah motor dikenai harga Rp2.000,00, sedang untuk satu orang cukup membayar Rp1.000,00.

Ingin melihat? Temukan di Sangatta.