Mantap Leh

Hujan menunda progres hari ini.

Hanya jadi 4 buah. Silakan dipesan. Promo IDR 75k
Warna Merah ukuran L 2 ea
Raglan Putih Hitam Ukuran L 2 ea
Raglan Putih Merah Ukuran M 1 ea

#Mantap #Leh!!! yang lain #Tekipai
#Kaos #Leh!!! #Kutai #Timur
By Rainbow CREATIVE

Salam Damai 😂

Salam damai ^^v

Berproses Terus

Berproses terus #Leh!!!
#Sangatta #Coal #Miner
#Oleh-oleh #Kutai #Timur
By #Rainbow CREATIVE Warna-warni Kutai Timur

Desain - Emblem Sangatta Miner


Berproses lagi #Leh!!!
Kaos si Penambang
Sangatta - Kutai Timur

Desain - Sangatta Coal Miner


Coal Miner dari Sangatta
Mantap #Leh!!!

Rainbow CREATIVE - Latar Belakang

Konsep pengembangan wisata telah banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia melalui penggalian potensi-potensi wisata yang memang layak untuk dikembangkan. Upaya ini juga didukung oleh pemerintah melalui UU no 10 tahun 2009 di mana beberapa tujuan di antaranya adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya.


Dengan seiring pertumbuhan kepariwisataan di Sangatta Khususnya dan Kutai Timur secara umum, secara tidak langsung menuntut perkembangan sisi kehidupan yang lain, termasuk usaha pengembangan suvenir.

Saat ini, Kab. Kutai Timur beribu kota di Sangatta yang berpenduduk kurang lebih 253.847 jiwa dengan sebagian besar penduduknya adalah pendatang yang bekerja dan mencari nafkah di Kutai Timur, sehingga sering kembali ke kampung halamannya. Biasanya mereka kembai akan membawa sesuatu yang khas dari daerah tempat di mana ia bekerja.


Kecenderungan dari suvenir yang ada di Kalimantan yang serupa dan seragam, sehingga suvenir bisa dibeli di mana saja dan tidak menggambarkan secara spesifik suvenir tersebut berasal dari mana. Berangkat dari hal itu, kami ingin mengembangkan suvenir-suvenir yang dapat memperkenalkan derah asal kami kepada khalayak dengan tetap mencirikan keunikan lokal Sangatta dan Kutai Timur. Souvenir Tradisional di Kalimantan cenderung tidak mempunyai banyak varian. Penjualan ini akan lebih menawarkan berbagai macam jenis sesuai dengan minat konsumen dan menampilkan varian yang terbaru yang unik dan bercirikan lokal khas daerah.

Dengan adanya kondisi diatas itu membuat peluang yang berkaitan dengan kerajinan souvenir pun terbuka lebar dan bisa saja sangat menjanjikan. Untuk itu, kami ingin memanfaatkan peluang ini. Kami telah mendirikan sebuah perkumpulan yang mengerjakan kerajinan suvenir khas daerah dengan nama Rainbow CREATIVE sejak 2011.

Ragam Hias Khas Basap

Daerah Bengalon merupakan daerah strategis, baik dari segi potensi alam maupun lalu lintas perdagangan. Perpaduan topografi, ketinggian, geologi, tanah, iklim dan curah hujan menjadikan Bengalon kaya akan vegetasi dan keragaman fauna.
Sungai Bengalon yang dijuluki sungai Mahakam, berarti sungai ‘utama’, merupakan penghubung antara Kutai dengan muara Bengalon dan berperan penting dalam mobilitas perdagangan.

Salah satu suku yang hidup bergantung pada alam daerah Bengalon adalah suku Dayak Basap. Proses adaptasi Dayak Basap pada daerah Bengalon menjadikan Dayak Basap sebagai suku dengan kekhasan yang tidak tampak pada suku lainnya. Kekhasan tersebut tertuang pada nilai-nilai termasuk nilai visual khas Dayak Basap. Karakter visual khas Dayak Basap tampil melalui ragam hias dan ilustrasi hasil stilasi alam seperti bentukan pohon serta hewan yang berperan penting dalam kehidupan Dayak Basap.

Bagi Dayak Basap, peran dan makna corak yang mereka buat tidak lebih penting dari proses pembuatan itu sendiri, yaitu pada saat upacara adat Erau. Proses pembuatan corak selama upacara Erau merupakan simbol bagi Dayak Basap dalam menghormati alam yang menghidupi mereka selama setahun penuh berladang dan berburu di hutan.

Kekhasan corak Dayak Basap berpotensi di’olah-rupa’kan pada berbagai media. Penggunaan visual lokal merupakan salah satu bentuk penghargaan bagi lokalitas daerah, khususnya dengan memunculkan identitas Kalimantan Timur. Dan salah satu media primer yang dapat menerapkan tujuan tersebut adalah media busana. Perancangan busana dengan lokalitas khas Dayak Basap diharapkan dapat menjadi dorongan bagi pemanfaatan unsur lokal selanjutnya pada media-media lainnya.

Sumber: Yosephin Sri (Basap Berkarya, 2013).

Perjalanan Bersama National Geograpich di Sangatta -2

Perjalanan hari ini, Tim KPC, National Geograpich, dan saya akan menuju ke PIT J, yaitu salah satu area pertambangan milik PT KPC. Tim kami ditemani juga dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur, dan peneliti dari Universitas Mulawarman Samarinda. Perjalanan ke PIT J ini bertujuan untuk melihat Kelelawar di Goa Kenyamukan. Persiapan yang wajib dilakukan yaitu melengkapi PPE, atau alat pelindung diri sebelum memasuki tambang. Adapun PPE yang digunakan yaitu sepatu safety, Helm, rompi berreflektor, dan kartu visitor untuk memasuki area tambang.
Sekilas tentang goa ini, adalah berada di area yang sempat akan ditambang. Namun karena ditemukan adanya sebuah goa, maka proses penambanganpun dihentikan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi goa ini. Dikarenakan goa ini merupakan habitat kelelawar, maka untuk menjaga ekosistemnya, PT KPC menghentikan eksplorasinya di area ini dan tetap menjaga keasliannya.

Pukul 09.00 kami berangkat menuju PIT J, sekitar 15 kami sampai di kantor PIT J. Di sana mobil kami memasang bendera penanda untuk mobil berukuran kecil yang masuk ke area tambang. Setelah bendera terpasang, perjalanan menuju goa di lanjutkan. Sepanjang 30 menit, kami disuguhkan aktifitas pertambangan, mulai dari lalu lalangnya mobil-mobil berukuran raksasa yang melakukan pengangkutan batu bara, tanah, hingga dumping tanah di salah satu tempat di area PIT J. Sesampainya di dekat goa, kami harus menghentikan mobil dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 5 menit.

Di mulut gua, Pak Pindi memberikan breafing sejenak tentang potensi bahaya di dalam gua, seperti lemas, kehabisan oksigen, menabrak kelelawar atau menabrak batu. Dijelaskan juga bahwa di dalam goa ini terdapat kurang lebih tiga jenis kelelawar, berbagai hewan kecil lainnya seperti laba-laba dan jangkrik. Kelelawar ini berfungsi sebagai hewan yang mengatur keseimbangan nyamuk, karena kelelawar yang ada di gua ini memangsa nyamuk. Apabila goa ini dihancurkan atau dirusak ekosistemnya, maka kemungkinan besar daerah Sangatta bisa terjadi endemik nyamuk, dan ini sangat berbahaya. Karena nyamuk ada yang berpotensi membawa penyakit malaria dan demam berdarah.

Memasuki kawasan goa, kami disuguhkan dengan banyaknya kelelawar yang berterbangan karena merasa terganggu dengan adanya pergerakan yang terjadi. Di dalam goa ini berukuran cukup luas, jarak dari sisi ke sisinya bisa mencapai 20an langkah orang dewasa. Di dinding-dinding goa terdapat kelelawar-kelelawar yang bergantungan, jumlahnya sangat banyak, kemungkinan bisa mencapai ribuan ekor. Di salah satu sisi dinding, terdapat semacam terowongan untuk menuju sisi goa yang lain. Di sisi lain tersebut kita bisa menemukan jenis kelelawar yang lebih besar daripada kelelawar yang ada di area mulut goa. Selain itu, banyak laba-laba dan jangkrik yang bersebaran di sekitar dinding-dinding gua.

Kami banyak mengambil foto untuk mengabadikan keunikan dan keindahan goa ini. Sampai-sampai kami tak merasa bahwa waktu telah menunjukkan pukul 14.00. Kamipun harus kembali ke kota untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke Telaga Batu Arang.

Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Telaga Batu Arang. Tidak sampai 30 menit, kami telah sampai. Di sana saya dan Pak Rober dari tim KPC menjelaskan kepada perwakilan National Geograpich tentang wilayah paska tambang ini yang akan dijadikan sebagai tempat wisata. Mereka sangat terkesan dengan hijau dan rimbunnya tempat ini. Mereka tak menyangka bahwa Telaga Batu Arang adalah wilayah yang pernah ditambang. Selesai mengambil dokumentasi kami bergegas kembali ke kantor CE KPC karena perwakilan National Geograpich harus kembali ke PIT J untuk mendokumentasikan keluarnya kelelawar di sore hari dan sayapun harus kembali ke sekretariat untuk melanjutkan aktifitas.

Perjalanan Bersama National Geograpich di Sangatta -1


Perjalanan dimulai pada tanggal 06-06-2012 dari pukul 5 pagi, kegiatan hari ini bertujuan untuk menemukan artikel pendukung dalam melengkapi artikel utama yang dikerjakan. Tujuan pertama, kami diajak oleh KPC menuju pantai teluk lombok.